Sao Mario: Jejak Budaya yang Tak Boleh Dilupakan Generasi Muda
| Rismayanti |
Di tengah derasnya arus media sosial dan globalisasi, tidak sedikit generasi muda yang lebih mengenal budaya luar dibandingkan warisan budaya daerahnya sendiri. Padahal budaya merupakan identitas yang mencerminkan sejarah, karakter, dan jati diri suatu daerah.
Salah satu warisan budaya yang masih terjaga hingga sekarang adalah Rumah Adat Sao Mario. Di kompleks Rumah Adat Sao Mario terdapat berbagai rumah adat dengan corak arsitektur khas Bugis, Makassar, Mandar (Boyang), dan Toraja.
Rumah Adat Sao Mario didirikan pada tahun 1990 di Batu-Batu, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan. Tepatnya di sebelah barat Kelurahan Mankrang salo, di atas lahan seluas 12 hektar. Rumah adat ini didirikan dan dimiliki oleh Prof. Andi Mustari Pide, seorang tokoh sekaligus budayawan Bugis.
Nama Sao Mario berasal dari bahasa Bugis yang merupakan gabungan dari kata Sao yang berarti rumah dan Mario yang diambil dari nama daerah setempat, yaitu Marioriawa. Di dalam kompleks tersebut terdapat rumah adat utama yang dikenal sebagai bola seratue atau rumah seratus tiang, karena bangunannya ditopang oleh sekitar 119 tiang kayu.
![]() |
| Rumah Adat Sao Mario |
Secara umum, rumah adat ini juga berfungsi sebagai museum yang menyimpan berbagai benda bersejarah dan barang antik bernilai tinggi. Koleksi yang tersimpan di dalamnya antara lain kursi antik, meja antik, berbagai jenis batu permata, benda-benda pusaka, serta peninggalan sejarah lainnya yang memiliki nilai budaya dan edukasi yang tinggi.
Saat berkunjung ke Sao Mario, saya merasa sangat takjub melihat luasnya kawasan serta keindahan dan kekayaan sejarah yang terdapat di dalamnya. Di sana terdapat banyak rumah adat. Setiap rumah adat memiliki keunikan dan nilai budaya yang berbeda-beda. Saya berkesempatan mengelilingi dan melihat langsung rumah adat Bugis, Boyang, Toraja, dan Makassar. Dari beberapa rumah adat tersebut, hanya rumah adat Bugis yang tidak dapat dimasuki oleh pengunjung karena di dalamnya tersimpan berbagai benda peninggalan sejarah yang sangat bernilai. Sementara itu, rumah adat lainnya dapat dikunjungi dan di dalamnya terdapat berbagai koleksi benda bersejarah yang menarik untuk dipelajari.
Selama berada di Sao Mario, pengunjung diwajibkan mengenakan sarung sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi dan adat istiadat setempat. Selain itu, pengunjung juga dilarang mengambil ataupun merusak benda-benda yang ada di kawasan tersebut. Pengunjung harus menjaga sikap, perkataan, dan perilaku selama berada di sana sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya dan sejarah yang diwariskan oleh para leluhur.
Sebagai generasi muda, kita harus mengenal, memahami, dan menghargai budaya yang ada di sekitar kita agar warisan budaya tersebut tidak hilang ditelan perkembangan zaman. Mempelajari budaya juga dapat memperluas wawasan, menghargai perbedaan, dan meningkatkan kesadaran untuk menjaga warisan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Salah satu cara untuk mengenal budaya secara lebih mendalam adalah dengan mengunjungi langsung tempat-tempat bersejarah seperti Rumah Adat Sao Mario. Di sana, kita dapat mempelajari sejarah terbentuknya tempat tersebut, melihat berbagai peninggalan bersejarah, mengenal tradisi masyarakat setempat, serta memahami keunikan rumah adat dan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Sebagai generasi muda, kita tidak boleh hanya mengetahui budaya dari cerita atau buku, tetapi juga perlu melihat, mempelajari, dan merasakan sendiri nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, budaya tidak hanya menjadi peninggalan masa lalu, tetapi juga menjadi bagian dari identitas yang terus hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Oleh karena itu, menjaga keberadaan Sao Mario bukan hanya tanggung jawab pengelolanya, tetapi juga tanggung jawab bersama. Selama generasi muda masih mau mengenal dan mencintai budayanya, warisan leluhur akan tetap hidup dan menjadi identitas yang membedakan kita di tengah arus globalisasi.
![]() |
| Mahasiswa KIP-K IAIN Parepare |
Penulis: Rismayanti


Komentar
Posting Komentar