Merdeka belajar atau merdeka dari belajar? Potret ironis MI DDI Batulosso
| Fahrulkhan |
Setiap
tanggal 2 Mei, kita serempak mengenakan pakaian adat, berdiri tegak di lapangan
upacara, dan mendengarkan pidato tentang kebebasan belajar. Namun, di balik
riuhnya tepuk tangan di gedung-gedung kementerian, ada kesunyian yang mencekam
di ruang-ruang kelas MI DDI Batu Losso tepatnya di Benteng Paremba, Kecamatan
Lembang, Kabupaten Pinrang. Di sana, jargon "Merdeka Belajar" terasa
seperti bisikan dari planet lain yang tak kunjung mendarat.
Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi momen refleksi yang pahit, bukan sekadar perayaan kosmetik. Jika kita berani jujur melihat ke bawah, kita akan menemukan bahwa wajah pendidikan Indonesia memiliki dua rupa yang sangat kontras: kemewahan teknologi di satu sisi, dan perjuangan bertahan hidup di sisi lain.
MI DDI Batu Losso hanyalah satu dari ribuan sekolah di
pelosok nusantara yang menjadi saksi bisu betapa lambatnya tangan pembangunan
bekerja. Saat anak-anak di kota besar mulai berdiskusi dengan
bantuan kecerdasan buatan, anak-anak di pelosok terkadang masih harus berbagi
satu buku paket untuk lima orang. Kondisi fisik bangunan yang memprihatinkan
bukan sekadar masalah estetika; itu adalah masalah keamanan dan kenyamanan
belajar. Bagaimana seorang anak bisa berkonsentrasi pada rumus matematika jika
air hujan menetes dari atap yang lapuk ke atas buku tulisnya?
Ketimpangan ini bukan tanpa
konsekuensi. Pendidikan yang tidak layak menciptakan "kasta" baru di
masyarakat. Mereka yang beruntung mendapatkan fasilitas lengkap akan terus
melesat, sementara anak-anak di sekolah seperti MI DDI Batulosso akan terus
terjebak dalam siklus ketertinggalan. Ini adalah bentuk ketidakadilan sosial
yang paling nyata, yang sayangnya, sering dianggap sebagai "nasib"
oleh sebagian orang.
Guru:
Pahlawan yang Terabaikan
Kita sering memuji guru sebagai
pahlawan tanpa tanda jasa. Namun di daerah terpencil, predikat itu terasa
sangat membebani. Guru-guru di sekolah marginal tidak hanya dituntut mengajar,
tapi juga menjadi tukang bangunan saat sekolah rusak, menjadi orang tua kedua,
bahkan seringkali menyisihkan gaji mereka yang tak seberapa untuk membelikan
alat tulis bagi siswa contohnya guru yang mengajar di sana hanya sendiri dan
tak jarang menggunakan uang pribadinya untuk keperluan sekolah dan muridnya
Pemerintah pusat sering kali
mengeluarkan kebijakan kurikulum yang ambisius tanpa mempertimbangkan realitas
di lapangan. Kurikulum baru menuntut guru untuk fasih teknologi, sementara di
banyak titik di pedalaman, listrik pun masih sering padam dan sinyal internet
adalah barang mewah. Kebijakan yang bersifat dari atas ke bawah ini hanya akan
memperlebar jurang antara pusat dan daerah.
Pendidikan
Bukan Proyek, Tapi Janji Bangsa
Mengapa sekolah seperti MI DDI
Batulosso masih ada di tahun 2026 ini? Masalah utamanya seringkali bukan pada
ketersediaan dana, melainkan pada distribusi dan akurasi data. Sistem Dapodik
yang diagung-agungkan seringkali gagal memotret kondisi riil karena hambatan
teknis di lapangan. Akibatnya, anggaran pendidikan yang mencapai ratusan
triliun rupiah seringkali terserap ke proyek-proyek yang tidak mendesak,
sementara kebutuhan mendasar di pinggiran tetap tak terpenuhi.
Pendidikan adalah satu-satunya alat yang kita miliki untuk memutus rantai kemiskinan. Jika kita membiarkan sekolah-sekolah di pelosok terbengkalai, kita sebenarnya sedang membiarkan masa depan bangsa ini keropos. Kita tidak bisa mengharapkan munculnya inovator hebat dari desa-desa jika pintu masuk mereka menuju ilmu pengetahuan sudah dihadang oleh fasilitas yang tidak layak.
Sebuah Penutup untuk Hari Ini
Hari Pendidikan Nasional tahun ini tidak boleh berakhir setelah lagu "Indonesia Raya" selesai dikumandangkan di lapangan upacara. Kita harus menagih janji negara untuk menghadirkan keadilan pendidikan hingga ke Batu Losso dan wilayah serupa lainnya.
Pemerintah tidak boleh hanya sibuk
membangun universitas kelas dunia, sementara sekolah dasar di pelosok masih
kekurangan bangku. Mari kita jadikan kondisi MI DDI Batu Losso sebagai
pengingat: bahwa pendidikan yang layak adalah janji kemerdekaan bagi seluruh
rakyat Indonesia, bukan hanya bagi mereka yang tinggal di dekat pusat
kekuasaan. Tanpa pemerataan, "Merdeka Belajar" hanyalah sebuah utopia
yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang.
Tahun depan, saat kita kembali
merayakan hari ini, semoga tidak ada lagi air mata karena atap sekolah yang
bocor, dan tidak ada lagi guru yang merasa sendirian berjuang di ujung negeri. Itulah kado terbaik bagi
pendidikan Indonesia.
Komentar
Posting Komentar