MBG: Solusi Gizi atau Plot Twist Bagi Pedagang Kecil?
![]() |
| Annisya Saskia Putri |
Program
Makanan Bergizi Gratis (MBG) hadir bak angin segar di tengah hiruk-pikuk janji
politik dan ambisi besar menuju Indonesia Emas 2045. Narasi yang dibangun
sangatlah idealis: memperbaiki gizi generasi bangsa, menekan angka stunting,
hingga meringankan beban ekonomi orang tua. Dalam kacamata komunikasi politik,
ini adalah "produk jualan" yang nyaris sempurna populis, menyentuh kebutuhan dasar, dan
mudah dicerna oleh masyarakat luas. Namun, di balik kemasan kebijakan yang
tampak manis ini, muncul sebuah 'plot twist' yang luput dari sorotan kamera
utama pemerintah.
Plot
twist tersebut hadir di balik pagar-pagar sekolah, tepatnya di lapak-lapak
pedagang kantin dan warung kecil sekitar yang selama puluhan tahun telah
menjadi ekosistem pendukung kebutuhan pangan siswa. Ketika negara mengambil
alih peran penyedia makanan secara terpusat, terjadi pergeseran ekonomi yang
justru menjadi 'kejutan pahit' bagi rakyat kecil yang menggantungkan hidupnya
dari recehan uang jajan siswa. Alih-alih merangkul mereka dalam rantai pasok
yang inklusif, kebijakan ini seolah menciptakan tembok baru yang memisahkan
antara ambisi kesehatan nasional dengan keberlangsungan hidup pedagang lokal.
Opini ini akan membedah bagaimana komunikasi politik pemerintah seharusnya
tidak hanya fokus pada "apa yang diberikan", tetapi juga pada "siapa
yang perlahan dimatikan" di balik sebuah kebijakan besar.
Plot
Twist yang Menjadi Kenyataan Pertama,
mengenai "mati surinya" ekonomi di pagar sekolah. Realitas di
lapangan menunjukkan bahwa kebijakan MBG telah mengubah perilaku konsumsi siswa
secara drastis. Secara logika komunikasi politik, pemerintah mungkin merasa
telah berhasil memberikan layanan total, namun mereka lupa bahwa sekolah adalah
sebuah ekosistem ekonomi. Ketika siswa sudah "dikenyangkan" oleh
negara, daya beli mereka di kantin atau pedagang kaki lima otomatis merosot
tajam. Bahkan,
'plot twist' ini diperparah dengan adanya kebijakan internal di beberapa
sekolah yang melarang siswa jajan saat jam istirahat pasca-makan MBG. Alih-alih
menjadi solusi, program ini justru menjadi kompetitor utama yang mematikan
usaha rakyat kecil. Pedagang yang biasanya menjemput rezeki dari recehan siswa
kini harus gigit jari karena "pasar" mereka telah diambil alih oleh
skema katering besar atau pengadaan terpusat. Ini adalah bentuk eksklusi
ekonomi yang dibungkus dengan narasi kesehatan.
Kedua, dampak sistemik pada ketersediaan bahan baku.
Masalah tidak berhenti di kantin sekolah saja. Skema pengadaan MBG yang
dilakukan secara masif dan serentak menciptakan guncangan pada pasar lokal.
Ambil contoh kasus kelangkaan susu UHT. Ketika pemerintah atau vendor besar
memborong stok susu dalam skala raksasa untuk memenuhi kuota program, hukum
pasar pun bekerja: barang menjadi langka dan harga melonjak naik.
Di sinilah letak ironinya. Pedagang minuman kecil
yang membutuhkan susu UHT sebagai bahan baku utama kini terjepit di antara dua
pilihan sulit: ikut menaikkan harga jualan yang berisiko tak laku, atau
berhenti berjualan karena modal yang membengkak. Kelangkaan ini membuktikan
bahwa pemerintah belum siap secara infrastruktur komunikasi dan koordinasi
dengan pelaku ekonomi di tingkat bawah. Akibatnya, demi memenuhi kebutuhan gizi
satu kelompok, kita secara tidak langsung mencekik napas ekonomi kelompok lainnya.
Pada
akhirnya, Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) tidak boleh hanya berhenti
sebagai prestasi statistik di atas kertas atau sekadar konten di media sosial
pemerintah. Sejatinya, sebuah kebijakan publik yang sehat harus mampu
menghidupi, bukan justru mematikan yang sudah ada. Kita tentu ingin melihat
siswa kita tumbuh cerdas dan bugar, namun kita juga tidak ingin melihat
pedagang-pedagang kecil di sekitar kita harus gulung tikar karena tidak mampu
bersaing dengan dominasi negara. Oleh
karena itu, diperlukan langkah nyata dalam mengintegrasikan para pelaku usaha
mikro ke dalam ekosistem MBG. Alih-alih mengandalkan katering besar atau
memborong stok bahan baku secara sepihak yang memicu kenaikan harga, pemerintah
perlu merangkul pedagang lokal sebagai mitra penyedia. Mari kita bayangkan
sebuah skema di mana kantin sekolah dan warung sekitar menjadi bagian dari
rantai pasok resmi di
mana mereka diberdayakan untuk menyediakan bahan baku atau mengolah menu sesuai
standar gizi yang ditetapkan.
Sudah
saatnya kita mendesak adanya transparansi dan tata kelola yang lebih adil dalam
komunikasi politik pemerintah. Jangan biarkan "niat baik" ini
berjalan sendirian tanpa melihat realita di lapangan. Mari kita upayakan agar
MBG menjadi jembatan kesejahteraan bagi semua: siswa kenyang dengan gizi yang
terjaga, dan pedagang kecil tetap berdaya dengan usaha yang terjaga. Sebab,
keadilan sosial yang sesungguhnya adalah ketika negara hadir untuk
mengenyangkan perut anak bangsa tanpa harus memutus piring nasi rakyat kecil
lainnya.

Komentar
Posting Komentar