Media Pers dan Kekuatan Membentuk Opini Publik

 

Penulis: Samira Febriani Sakinah

Pada zaman digital saat ini, media massa tidak lagi sekadar menyampaikan informasi, melainkan juga berperan dalam membentuk opini publik. Melalui berita, editorial, acara talk show politik, hingga framing isu, media mampu memengaruhi persepsi masyarakat terhadap realitas politik. Hal ini menjadikan media sebagai kekuatan penting dalam komunikasi politik. Fenomena ini menunjukkan bahwa media memiliki peran strategis dalam komunikasi politik karena dapat menentukan isu mana yang dianggap penting oleh publik (agenda setting), bagaimana suatu isu dipahami (framing), serta bagaimana citra tokoh dan kebijakan politik dibangun di hadapan masyarakat. Oleh karena itu, keberadaan media sebagai pembentuk opini menjadikannya kekuatan penting dalam komunikasi politik, sekaligus menuntut tanggung jawab etis agar informasi yang disampaikan tidak menjadi alat penggiringan opini semata, tetapi tetap berorientasi pada kebenaran dan kepentingan publik.

Sebagai contoh, media seperti tvOne, MetroTV, dan CNN Indonesia sering menyajikan isu politik dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Perbedaan framing ini menunjukkan bahwa media tidak selalu bersikap netral sepenuhnya, melainkan turut serta dalam membentuk opini masyarakat. Pemilihan isu yang diangkat, narasumber yang diundang, cara penyampaian berita, serta bahasa yang digunakan dalam pemberitaan semuanya dapat memengaruhi cara publik menafsirkan suatu peristiwa politik. Dalam banyak kasus, isu yang sama bisa dipersepsikan secara berbeda oleh masyarakat karena konstruksi berita yang dibuat oleh masing-masing media.

Beberapa studi analisis isi juga menunjukkan adanya kecenderungan perbedaan dalam penonjolan isu dan narasumber di media televisi yang membahas politik di Indonesia, yang memperlihatkan bahwa media tidak hanya mencerminkan realitas politik, tetapi juga turut membentuknya di hadapan publik. Hal ini menegaskan bahwa media memiliki kekuatan besar dalam mengarahkan wacana publik sekaligus mempengaruhi pembentukan opini politik masyarakat.

Menurut Harold D. Lasswell, komunikasi politik merupakan proses di mana pesan disampaikan dengan tujuan untuk menghasilkan dampak tertentu terhadap khalayak. Dengan rumus terkenalnya, Who says what, in which channel, to whom, with what effect, Lasswell menekankan bahwa setiap pesan politik yang disampaikan melalui media memiliki tujuan dan efek yang dapat mempengaruhi opini publik. Dalam kerangka ini, media berperan sebagai saluran strategis yang tidak hanya menyebarkan informasi politik, tetapi juga membentuk persepsi masyarakat terhadap tokoh, kebijakan, dan arah demokrasi.

Pemberitaan, editorial, debat politik, serta framing isu yang disajikan media mampu mempengaruhi bagaimana publik memahami realitas politik, bahkan menentukan tingkat kepentingan suatu isu. Oleh karena itu, media massa memiliki kekuatan besar dalam membentuk opini publik, menggerakkan dukungan politik, dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap berbagai permasalahan nasional. Dari sudut pandang komunikasi politik, fungsi ini menunjukkan bahwa media bukan hanya sebagai penyampai pesan, tetapi juga sebagai aktor yang berperan aktif dalam dinamika kekuasaan dan proses demokrasi.

Sementara itu, Jurgen Habermas memandang media sebagai bagian dari ruang publik (public sphere), tempat masyarakat secara rasional berdiskusi dan membentuk opini. Secara ideal, media harus menjadi ruang dialog demokratis, bukan sekadar arena untuk mengarahkan opini secara sepihak. Namun, kenyataannya, opini yang dibangun media sering kali dipengaruhi oleh kepentingan ekonomi, ideologi, atau afiliasi politik tertentu. Banyak kalangan menilai bahwa beberapa media cenderung berpihak dalam pemberitaan mereka. Ketika opini media terlalu dominan dan mengarahkan persepsi tanpa adanya keseimbangan informasi, fungsi media sebagai alat kontrol sosial bisa tergeser menjadi alat kepentingan tertentu.

Di dalam pandangan Islam, media harus menjalankan fungsi komunikasi politik yang berlandaskan ṣidq (kejujuran), amanah, serta amar ma’ruf nahi munkar. Dengan demikian, opini yang dihasilkan media harus mengarah pada kebenaran, keadilan, dan kemaslahatan umum, bukan pada provokasi maupun manipulasi data. Oleh karena itu, media massa tidak hanya berlomba-lomba dalam membentuk opini, tetapi juga harus menjaga etika jurnalistik. Opini publik yang sehat akan muncul dari media yang independen, kritis, dan bertanggung jawab. Di sinilah media tidak hanya berperan sebagai pembentuk opini, tetapi juga sebagai penjaga kualitas demokrasi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gelar Pelatihan Opini dan Web: Forkim Hadirkan Ketua LP2M IAIN Parepare Sebagai Pemateri

Dulu Pemberontakan Fisik, Kini Perang Wacana: Apakah Kita Sedang Mengulangi G30S Versi Digital?

The Wonderful Of Morowali