Ketika Kebijakan Tidak Bijak Maka Kerusakan Yang Terlihat

   

Pemimpin adalah pemegang kendali kebijakan di dunia sebagai representasi kepercayaan Tuhan. Setiap pemimpin memiliki wewenang dalam mengambil kebijakan, namun pemimpin yang bijak tidak sekadar menetapkan kebijakan ia harus memahami dampak dari setiap keputusan yang diambilnya. Saat ini, kita menyaksikan berbagai kerusakan yang terjadi akibat kebijakan yang tidak dikaji, dipahami, dan dipikirkan secara mendalam. Ketika kebijakan hanya ditentukan oleh individu atau kelompok tertentu tanpa melibatkan partisipasi masyarakat, inilah cikal bakal kerusakan karena ketidakpahaman terhadap realitas dan kebutuhan masyarakat sesungguhnya.

Realitas yang terjadi menunjukkan betapa banyaknya kebijakan yang justru berdampak pada kerusakan. Ini terjadi karena pemimpin yang merasa bijak namun sejatinya merusak. Ketika pemimpin hanya pandai berpikir tanpa menimbang dengan bijaksana, maka jangan heran jika kerusakan merajalela di mana-mana.

Mari kita lihat konteks Sumatra saat ini. Banyak pernyataan mengatakan bahwa bencana hadir karena kemaksiatan yang terjadi. Pertanyaannya: bukankah menebang pohon dan memperluas lahan secara berlebihan juga merupakan bentuk kemaksiatan? Ini terjadi akibat kebijakan yang tidak bijak. Puluhan rumah hancur, ratusan bahkan ribuan manusia mengalami ketakutan dan penderitaan akibat bencana. Ini tidak lepas dari konsekuensi kebijakan pemimpin.

Sekarang saya analogikan: jika Anda dimanfaatkan dengan cara yang tidak beretika dan berlebihan, bagaimana yang Anda rasakan? Kecewa, lelah, atau bahkan marah. Demikian pula dengan alam jika tubuhnya sudah terluka, maka jangan heran jika ia "muntah": tanah, bebatuan, air, dan kayu-kayuan. Lalu siapa yang harus disalahkan? Alam? Tuhan? Manusia? Lagi-lagi, ini tidak lepas dari kebijakan yang tidak bijak.

Dalam sejarah, sudah banyak contoh dan pelajaran tentang bagaimana menentukan kebijakan agar berdampak baik pada lingkungan dan masyarakat, bukan justru merusak. Melalui sejarah, kita belajar tentang penyebab terjadinya kebaikan dan keburukan, kita dapat mengetahui asal-muasal fenomena masa lalu, masa kini, dan masa depan agar mampu memastikan setiap kebijakan berdampak pada kebaikan. Namun justru banyak yang mengatakan belajar sejarah itu membosankan mungkin maksudnya enggan melihat kebenaran. Para pemangku kebijakan mesti belajar bagaimana khalifah terdahulu memutuskan kebijakan agar dampaknya tidak merugikan.

Salah satu narasi sejarah yang penting adalah tentang perlindungan lingkungan. Dalam sejarah Islam klasik, Khalifah Umar bin Khattab pernah menolak pemberian lahan yang terlalu luas kepada sahabat karena khawatir akan menimbulkan ketidakadilan dan kerusakan ekologis. Prinsip hifdh al-bi'ah (perlindungan lingkungan) dalam maqashid syariah menempatkan pelestarian alam sebagai salah satu tujuan esensial syariat. Amnesia sejarah akan mengantarkan kita pada kutukan, sehingga kita bisa saja mengulang kejadian yang sebenarnya dapat dihindari.

Dalam perspektif Islam, alam adalah amanah. Dalam perspektif sains, alam adalah sistem yang memiliki daya dukung terbatas. Dalam perspektif kemanusiaan, alam adalah rumah bersama yang harus dijaga untuk anak cucu kita. Dari sudut pandang manapun kita melihat, kesimpulannya sama: kebijakan ekstraktif yang tidak terkendali adalah jalan menuju kehancuran.

Jika kebijakan tetap tidak bijak, tragedi Sumatra 2025 ini hanyalah awal dari serangkaian bencana yang lebih besar di masa depan. Dan ketika itu terjadi, kita tidak bisa lagi menyalahkan cuaca. Yang harus kita salahkan adalah diri kita sendiri yang memilih pemimpin dan membiarkan kebijakan yang mengkhianati masa depan bangsa ini. Bayangkan, jika hari ini pemangku kebijakan tidak mempertimbangkan setiap kebijakannya dengan matang, lalu apa yang akan kita tapaki sebagai generasi muda untuk melanjutkan perjuangan bangsa? Kerusakan akan terjadi di mana-mana.

Setelah melihat konteks yang terjadi, solusi apa yang harus kita sumbangkan? Dari perspektif saya, pemuda hari ini harus dituntun oleh moral, etika, dan kedisiplinan agar ketika telah memiliki posisi sebagai pemangku kebijakan dapat memastikan bahwa setiap kebijakan disertai dengan kebaikan. Pemuda harus mempersiapkan kemampuan problem solving agar mampu melihat masalah dan menyelesaikannya dengan tepat. Seringkali masalah tidak dapat diselesaikan akibat ketidakjelian dalam menyelidiki akar penyebabnya. Yang paling penting bagi pemuda: pendidikan harus dijadikan sebagai senjata nyata untuk memberikan kontribusi kepada bangsa.

Diam adalah keberpihakan kepada status quo yang sedang menghancurkan masa depan kita semua. Dunia membutuhkan pemimpin yang berani radikal dalam kebaikan, ekstrem dalam kejujuran, dan absolut dalam keberpihakan kepada kehidupan. Hanya dengan pemimpin seperti itulah, Indonesia dan masa depan generasi mendatang masih memiliki harapan untuk selamat dan sejahtera.

Setiap tragedi adalah pelajaran yang paling dalam dan berarti bagi orang bijak.

Dan setiap orang yang bijak harus memastikan setiap kebijakanya berdampak pada kebaikan.

 

Penulis : Arsyad_Baharuddin


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dulu Pemberontakan Fisik, Kini Perang Wacana: Apakah Kita Sedang Mengulangi G30S Versi Digital?

Gelar Pelatihan Opini dan Web: Forkim Hadirkan Ketua LP2M IAIN Parepare Sebagai Pemateri

The Wonderful Of Morowali